Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan (PUSPENMA) Kementerian Agama RI, Dr. Ruchman Basori, M.Ag., menegaskan bahwa Mora The Air Funds merupakan momentum penting untuk mempercepat transformasi riset keagamaan dan pendidikan Islam di Indonesia.
“Kita mendorong dosen di perguruan tinggi keagamaan agar tidak hanya meneliti untuk publikasi, tetapi melahirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pembangunan nasional,” ujarnya dalam sosialisasi daring bertajuk “Menembus Mora Air Funds”, yang digelar oleh LP2M UIN Imam Bonjol Padang, Jumat (17/10).
Menurut Ruchman, program kolaboratif antara Kementerian Agama dan LPDP ini dirancang untuk melahirkan riset berdaya saing global. Ia menjelaskan bahwa pendanaan dapat mencapai Rp2 miliar untuk riset strategis yang melibatkan kolaborasi internasional dan berdampak kebijakan. “Riset yang baik adalah yang menjawab kebutuhan bangsa, relevan dengan RPJMN 2025–2029, dan mendukung visi Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd., menyambut program ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem riset kampus. “Tidak berhenti menjadi konsumen pengetahuan, tapi produsen gagasan yang diakui dunia. Melalui Mora Air Funds, dosen kita harus berani naik kelas: menulis, berkolaborasi, dan mempublikasikan hasil riset di jurnal internasional bereputasi,” ungkapnya.
Sebelumnya, kegiatan ini ini dilakukan secara daring pada Senin, 13 Oktober 2025, melalui platform Zoom, dengan menghadirkan Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I., sebagai keynote speaker, dan dilanjutkan dengan sesi luring pada 17 Oktober 2025 di kampus UIN Imam Bonjol Padang. Dalam paparannya, Ngainun Naim menyoroti pentingnya research mindset dan etika riset di era kompetisi akademik global. “Menulis proposal itu bukan soal format, tapi soal visi ilmiah. Visi itulah yang membedakan peneliti hebat dari penulis laporan biasa,” katanya.
Riset unggul tidak lahir dari rutinitas semata namun juga dari keberanian mengajukan pertanyaan besar dan mengeksekusinya dengan disiplin.
Ketua LP2M UIN Imam Bonjol Padang, Dr. Wakidul Kohar, M.Ag., yang bertindak sebagai moderator, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal menyiapkan proposal penelitian dosen untuk level nasional dan internasional. Ia menargetkan agar pada 2026, minimal lima proposal dari UIN Imam Bonjol Padang lolos pendanaan MoRA The Air Funds dan LPDP.
Dari dokumen resmi Bahan Riset 2025 diketahui, MoRA The Air Funds menekankan empat bidang utama: Sosial Humaniora, Ekonomi dan Lingkungan, Sains dan Teknologi, serta Pendidikan dan Keagamaan. Setiap bidang memiliki plafon maksimal pendanaan hingga Rp500 juta, dengan komposisi biaya langsung (BLP dan BLNP) sebesar 95%, serta 5% biaya tidak langsung (BTL) yang digunakan untuk administrasi, monitoring, dan pengembangan Lembaga.
Pada periode 2025–2029, riset diarahkan untuk mendukung prioritas nasional: penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas SDM, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Program ini juga menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset melalui kerja sama antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan industri. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan.
Ruchman Basori juga menyinggung tentang syarat utama pengajuan proposal, yakni periset utama harus bergelar Doktor (S3) dengan jabatan minimal Lektor, memiliki Sinta Score Overall 100, dan diutamakan berkolaborasi dengan universitas masuk peringkat 500 dunia. “Kita sedang membangun ecosystem of trust antara pemerintah, akademisi, dan industri. Mora The Air Funds akan menjadi katalis riset berkelas dunia dari tanah air,” tegasnya.
Penutupan kegiatan diwarnai dengan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk memperkuat riset berbasis data dan publikasi internasional.


